SERIAL KE 10 EDUKASI 1 MENIT 1 INFORMASI KESEHATAN TENTANG STUNTING

facebook sharing button
twitter sharing button
whatsapp sharing button
telegram sharing button
gmail sharing button
sharethis sharing button

SERIAL KE 10 EDUKASI 1 MENIT 1 INFORMASI KESEHATAN

KENALI STUNTING SEJAK DINI

Hai Sobat Sehat Pasbar

    Stunting masih menjadi salah satu masalah kesehatan pada anak yang perlu mendapat perhatian bersama. Ayah, Bunda, jangan menunggu anak terlihat sangat pendek untuk mulai peduli! Pemantauan pertumbuhan dan pemenuhan gizi sejak dini sangat penting untuk mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.

1. Apa Itu Stunting?

    Stunting adalah kondisi gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi dalam jangka panjang, infeksi berulang, serta berbagai faktor lain yang memengaruhi pertumbuhan. Stunting ditandai dengan panjang atau tinggi badan anak yang lebih rendah dibandingkan standar pertumbuhan anak seusianya.

    Stunting bukan hanya soal tinggi badan, tetapi juga dapat berkaitan dengan perkembangan otak, kemampuan belajar, dan kesehatan anak di masa depan.

2. Apa Saja Gejala atau Tandanya?

Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain:

·         Panjang atau tinggi badan anak lebih rendah dibandingkan standar usianya.

·         Pertumbuhan tinggi badan berjalan lambat.

·         Berat badan sulit naik atau pertumbuhan tidak sesuai kurva.

·         Anak mengalami keterlambatan perkembangan pada sebagian kasus.

    Penting: Anak yang terlihat pendek belum tentu mengalami stunting. Penilaian perlu dilakukan menggunakan standar antropometri sesuai usia dan jenis kelamin oleh tenaga kesehatan.

3. Bagaimana Insidens Stunting?

    Stunting merupakan masalah kesehatan masyarakat di berbagai negara, termasuk Indonesia. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi stunting nasional Indonesia sebesar 19,8%. Artinya, sekitar 20 dari setiap 100 balita mengalami stunting berdasarkan hasil survei tersebut.

Angka ini menunjukkan bahwa pencegahan stunting masih perlu diperkuat melalui pemenuhan gizi, pelayanan kesehatan ibu dan anak, sanitasi yang baik, serta pemantauan pertumbuhan secara rutin.

4. Apa Saja Faktor Risikonya?

Faktor yang dapat meningkatkan risiko stunting meliputi:

·         Kekurangan asupan gizi ibu selama kehamilan.

·         Anemia pada ibu hamil dan kondisi kesehatan ibu yang kurang optimal.

·         Bayi lahir prematur atau dengan berat badan lahir rendah.

·         Pemberian ASI dan makanan pendamping ASI yang tidak sesuai kebutuhan anak.

·         Makanan kurang beragam, kurang bergizi, atau tidak mencukupi kebutuhan anak.

·         Infeksi berulang, seperti diare.

·         Sanitasi dan akses air bersih yang kurang memadai.

·         Keterbatasan akses terhadap pelayanan kesehatan dan edukasi gizi.

Stunting umumnya berkembang melalui kombinasi berbagai faktor, bukan disebabkan oleh satu hal saja.

5. Bagaimana Pencegahannya?

Pencegahan stunting perlu dilakukan sejak sebelum kehamilan, selama kehamilan, hingga anak berusia dua tahun dan seterusnya.

·         Bagi calon ibu dan ibu hamil: penuhi gizi seimbang, lakukan pemeriksaan kehamilan rutin, serta konsumsi tablet tambah darah sesuai anjuran tenaga kesehatan.

·         Bagi bayi: berikan ASI eksklusif selama enam bulan pertama.

·         Mulai usia enam bulan: berikan MP-ASI yang cukup, aman, beragam, dan sesuai usia, sambil melanjutkan pemberian ASI hingga dua tahun atau lebih.

·         Lengkapi imunisasi sesuai jadwal.

·         Terapkan perilaku hidup bersih dan sehat, termasuk cuci tangan pakai sabun dan penggunaan air bersih.

·         Datang rutin ke Posyandu untuk penimbangan berat badan, pengukuran panjang atau tinggi badan, serta pemantauan perkembangan anak.

·         Segera konsultasikan kepada tenaga kesehatan apabila pertumbuhan anak tidak sesuai kurva.

6. Bagaimana Terapi atau Penanganannya?

Penanganan stunting disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan setiap anak. Langkah-langkahnya dapat meliputi:

·         Pemeriksaan pertumbuhan dan status gizi oleh tenaga kesehatan.

·         Evaluasi pola makan, asupan gizi, dan riwayat kesehatan anak.

·         Perbaikan asupan melalui makanan bergizi seimbang sesuai usia.

·         Pemberian suplemen atau tata laksana medis bila terdapat indikasi dan sesuai rekomendasi tenaga kesehatan.

·         Penanganan penyakit penyerta atau infeksi apabila ditemukan.

·         Pemantauan pertumbuhan dan perkembangan secara berkala.

Stunting tidak dapat diatasi hanya dengan memberikan vitamin atau susu tertentu. Penanganan perlu menyeluruh, sesuai penyebab, dan dilakukan sedini mungkin.

7. Apa Komplikasi atau Dampaknya?

Stunting dapat meningkatkan risiko:

·         Perkembangan kognitif dan kemampuan belajar yang kurang optimal.

·         Hambatan perkembangan fisik dan fungsi tubuh.

·         Produktivitas yang lebih rendah ketika dewasa.

·         Risiko masalah kesehatan metabolik pada masa dewasa.

Dampak pada setiap anak dapat berbeda. Deteksi dini dan penanganan yang tepat membantu mendukung potensi tumbuh kembang anak.

Pesan untuk Ayah dan Bunda

Jangan tunggu ada masalah baru bertindak!

Pantau tumbuh kembang anak sejak dini. Berikan gizi yang baik, lengkapi imunisasi, jaga kebersihan lingkungan, dan rutin datang ke Posyandu.

Yuk, datang ke Posyandu dan pantau pertumbuhan anak secara rutin!

Anak sehat adalah investasi masa depan.

UPT Puskesmas Pasar Baru – Kota Tangerang
Bersama cegah stunting, wujudkan generasi sehat dan berkualitas.

Pesona Baru UPT Puskesmas Pasar Baru. Kota Tangerang

Tanggal 14 Oktober 2026